Resolusi Setahun, Semangatnya Sehari

SNSD Marhaban Ya 2014

Tong huntu! Sebuah frase andalan salah satu teman yang malas banget untuk saya sebut namanya. Kata-kata bernada sinis yang berarti himbauan agar jangan terlalu semangat berwacana. Dan ini pas banget ditujukan buat orang-orang yang bikin resolusi tahunan.

Ya, salah satu aktivitas yang paling lekat dengan momen tahun baru adalah membuat resolusi. Ritual wajib tahun baru bagi masyarakat, setelah pada malam pergantian tahunnya mereka berpesta pora seperti ritual kaum Pagan yang dahulu biasa merayakannya dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, bernyanyi bersama dan meniup terompet.

Orang-orang pada antusias dan semangat untuk menulis beragam aktivitas, target, dan impian yang ingin dicapai di tahun 2014 ini. Emang ga ada yang salah dengan ritus ini, malahan sesuatu yang positif. Tapi sebagai orang yang masuk dalam golongan pemalas dan pesimistis, saya paling ga sanggup buat bikin resolusi tahunan. Ga sanggup buat mempertanggungjawabkannya di akhir tahun nanti.:mrgreen:

Okeh, saya ga ada maksud untuk merendahkan apalagi ngasih fatwa haram buat yang bikin resolusi tahunan. Punya target dan impian itu sesuatu yang bagus, harus punya malah. Dan saya pun punya. Karena dengan memiliki tujuan tadi, setiap orang akan tahu kemana dia akan menuju. Inilah pentingnya sebuah resolusi. Tanpa ada resolusi, hidup bagaikan tanpa perjuangan.

Tapi jujur, untuk resolusi tahunan, saya paling alergi. Ini tentunya tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap orang-orang yang suka bikin resolusi tahun baru. Untukmu persepsimu, dan untukku persepsiku.

Pandangan saya ini tercipta karena fakta di lapangan membuktikan resolusi awal tahun sudah terlalu pasaran, biasanya masuk pertengahan tahun bakal hilang tajinya, semangatnya hanya pas minggu-minggu awal, bahkan parahnya semangatnya cuma sehari aja. Karena cuma sebatas euforia ikut-ikutan yang lain. Selain itu ga efektif, jangka waktunya terlalu panjang soalnya.

Untuk membangun mimpi, resolusi adalah pondasinya. Ketimbang bikin resolusi tahunan, saya lebih memilih untuk membikin resolusi semester. Nah, sejak semester 3 kuliah, udah jadi semacam keharusan untuk bikin resolusi di awal semester. Kalau yang mau nyontek silahkan aja

Memang, resolusi semester ini kalah populer sama yang namanya resolusi awal tahun. Padahal sebenernya resolusi semester ini sebenarnya bakal lebih efektif dan ngena, karena dengan tenggat waktu yang lebih pendek. Yang pasti, membuat resolusi tuh jangan asal-asalan. Harus dibikin dengan serius, dengan target yang jelas, terukur, dan pastinya bisa untuk dievaluasi berhasil atau tidaknya.

Jadi, kenapa ga membuat resolusi yang rentang waktunya yg lebih singkat?

Tanpa menafikan, banyak yang sukses dengan resolusi tahunannya, karena emang kesungguhan mereka dalam merealisasikan mimpi-mimpi mereka. Tapi kayaknya bukan saya banget orangnya. Intinya mah, beda orang, beda selera. Untukmu resolusimu, untukku resolusiku. Yang salah mah yang ga punya resolusi.:mrgreen:


48 thoughts on “Resolusi Setahun, Semangatnya Sehari

  1. Aahh naon atuh eta resolusi teeeh..??
    Dimana-mana baca eta si resolusi, teteh sampe bingung sugan teh Risoles pertama baca pabeulit ieu soca sareng patuangan dan lapar haha

    Teteh mah tara ngadamel resoles tah, keun we sajalanna.. Tp tiap minggu sok ngalamun yen minggon ieu kedah tiasa ieu sareng itu.. Alhamdulillah upami kacumponan, upami teu acan nya kedah langkung disiplin

        1. ini dua bahasanya roamiiiiing…hahaha…

          aku mah going with the wind aja deh rip.. gak neko2..yg penting dijalanin dg sabar dan ikhlas dan bahagia😀

          1. wakakakakkk…butuh translator kah mbak eda? *wink*

            euleuh eta teh dewi sareng arip ngabibita pisan risoles cengeng tambah kopi. Komo deui lamun hujan tambah mantep😀

  2. Resolusi? Re itu berarti mengulang atau kembali, solusi berarti jalan keluar (suatu masalah). Kalau digabung jadi mengulang atau kembali ke jalan keluar (balik kemasalah yang pernah ada) ahahahaha. Saya gak pernah bikin resolusi, tapi lebih sering bikin apa yang harus dilakukan besok (hampir tiap hari sii).

    1. Nah, jangan sampai gini. Tapi masih mending sih kalau bertahannya sampai seminggu mah, yg parah kalau cuma pas bikinnya aja, pas hari itu aja.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s