Jangan Telepon Saya!

Telephonophobia
Sumber: Phil Cannon Art

Ketakutan memang hal yang wajar. Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Namun, sebagian orang justru memiliki rasa takut yang berlebihan. Terkadang rasa takut itu enggak bisa diterima akal sehat orang lain. Ada orang yang fobia sama ketinggian, dokter gigi, laba-laba, ruangan gelap, halilintar dan banyak lainnya. Tapi pernah enggak dengar tentang Telephonophobia? Takut menggunakan telefon, dalam artian takut menerima dan membuat panggilan.

Sesuatu yang aneh, saya juga merasa aneh, dan anehnya fobia satu ini yang hinggap ke saya. Enggak ada fobia yang lebih keren lagi apa ya?

Ketika ponsel berdering tanda panggilan masuk, lebaynya, kalau dicek tanda-tanda vital saya, bakal tercatat ada penurunan kesadaran, peningkatan pola nafas, peningkatan denyut nadi, peningkatan tekanan darah, peningkatan suhu tubuh, dan peninggian bulu kuduk. Makin menjadi kalau panggilannya dari nomor yg enggak dikenal.

Ya, saya memang paling jago untuk masalah pengabaian panggilan masuk. Kemungkinan suatu panggilan bakal saya angkat persentasinya sangat kecil. Sebagian besar memang karena saya sengaja ga angkat, namun ada juga yg karena saya ga sadar ada panggilan masuk.

Telephonophobia
Angkat gue rip! Ga usah pura-pura ga denger lo.

Telephonophobia ini merupakan komplikasi dari social anxiety disorder. Kecemasan berlebih saat dalam suatu situasi sosial, khususnya saat berinteraksi dengan orang lain, baik tatap muka langsung maupun saat melalui telepon.

Perasaan waswas bahkan menghindari untuk membuat atau menerima panggilan, menunda untuk membuat panggilan telepon karena khawatir takut mengganggu atau takut akan memalukan diri sendiri, khawatir tentang apa yg harus dilakukan serta kesulitan berkonsentrasi ketika berbicara di telepon, merupakan beberapa manifestasi dari fobia telepon.

Intinya sih karena sebenarnya saya ga pandai berkomunikasi verbal, lemah dalam kemampuan interpersonal. Ga piawai membangun percakapan, merasa sebagai lawan bicara yg buruk.

Faktor pencetus lainnya, mungkin bawaan dari kecil. Syahdan, masa saat ponsel masih belum menjamur, telepon pun masih langka, di tempat tinggal saya, di rumah tercinta, jauh dari ingar bingar kota, terdapat sebuah telepon rumah. Alhamdulillah karena diberi rezeki berlebih, bisa memiliki telepon rumah, yg memberi kebermanfaatan bagi warga sekitar. Ga jarang orang lain yg malah menggunakan telepon kami. Panggilan masuk pun biasanya ditujukan buat orang lain tadi. Oleh karena itu, ga berani buat angkat telepon. Sampai pernah kejadian, saat sendirian di rumah, saking ga berani buat angkat telepon, diam terus di lantai 2 tempat jemur pakaian panas-panasan, biar dering telepon tadi ga kedenger. Telepon sendiri terus berdering berkali-kali.

telephonophobia
I’ll keep ringing. Burst your head, rip your ear. I am a nightmare. I’ll find you and I’ll kill you.

Bukan hanya sebatas menerima dan membuat panggilan, sebenarnya saya pun punya masalah di korespondensi SMS. Kadang harus memutar otak berkali-kali untuk membuat atau membalas SMS, biasanya sih jarang membalas saya.

Patut bersyukur bagi mereka yg panggilannya diangkat atau SMS-nya dibalas. Pasalnya, sekelas dosen aja sampai harus izin dulu buat bikin panggilan.😎

Tentu, saya menyadari fobia ini harus diatasi karena sangat mengganggu terhadap kehidupan, baik personal maupun profesional. Meski kuliah belum belajar sampai Neuro-Behavioral System, menurut referensi dari internet, CBT (Cognitive-Behavioral Therapy) merupakan intervensi tepat untuk masalah gangguan sosial. Pastinya bisa diterapkan untuk telephonobia ini.

Mencontek penanganan kasus alergi dari dosen saya. Alergi ga jauh beda lah sama fobia kan. Nah, ada dua cara untuk mengatasinya, jauhi sumber alerginya atau hadapi dia. Untuk kasus alergi yg setiap hari tak bisa kita elakan, cara terbaik ya menghadapinya. Memaksakan diri untuk terbiasa dengannya.

Saya memberanikan diri dalam kepanitian untuk berada di bidang kehumasan, jadi koordinator mata kuliah, bahkan mengiyakan jadi pemimpin sebuah tim. Dalam pertemuan perdana, saya biasanya memperkenalkan sekaligus minta maaf tentang masalah telephonophobia ini. Dan biasanya saya buat kesepakatan sanksi untuk diri sendiri apabila telat membalas SMS.

Ada pengalaman ketika diamanahi jadi LO pembicara suatu kegiatan. Gagal sih untuk menghadirkan si pembicara prioritas pertama, soalnya miss comunication gara-gara saya hanya menggunakan jalur komunikasi lewat SMS. Ketika saya putuskan telepon, ternyata beliau enggak biasa, itu pembatalan pas malam H-1 acaranya. Tapi alhamdulillah ada pembicaranya juga acara tersebut, meski itu juga telat datang. Setelah memberi materi dan duduk bersama peserta serta saya, pembicara tadi bilang , “Si Arif mah telepon teh kaya yang lagi ngelamun ya”.

Ya, belajarlah dari Batman. Hadapi ketakutan. Dan jadikan itu menjadi kekuatan terbesar kita.

Pasti lah, juragan narablog dan pembaca juga punya fobia yg mungkin bagi orang lain dianggap sepele, bahkan konyol. Ada yg mau berbagi?


25 thoughts on “Jangan Telepon Saya!

  1. wah, saya juga punya phobia,,, saya musophobia…. sebuah phobia yang sama sekali ga kerren dan ga pantes untuk seorang cowok….🙄 bisa bantu ngatasin ga?

  2. Adaaa.. *ngacung tinggi*
    Fobia laba-laba. Tapi nggak begitu aneh sih, soalnya ada beberapa film yang adegannya ada orang fobia laba-laba, jadi berasa ada temannya.

    Nah, kalo fobia telepon emang baru tahu kalo ada.😀

    1. Asal jgn sampai komplikasinya fobia ke cowonya teh.
      Lelaki emang suka bermain, sementara cw suka dipermainkan. Udah sunatullah.

  3. ada ya phobia seperti itu?baru tau saya.hehehe,tapi benar banget kalo kita belajar dari ketakutan kita,maka kita akan menjadi sosok yang berlawanan dengan ketakutan itu. apa salahnya mengubah diri untuk kebaikan kita sendiri.

  4. wah, ternyata kita bernasib sama bang.
    entah kenapa aku phobia banget sama dering handphone. bahkan saat dengerin musik yang tiba-tiba sampe ke lagu yg aku pake buat ringtone, aku langsung panik, haha. lebay banget nggak sih?

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s