Berbincang Imajiner dengan Kang Emil

Seperti yg diajarkan Kang Haji Pidi Baiq, melakukan wawancara imajiner itu bukan perkara yg mudah, butuh kekuatan khusus yg hanya bisa dilakukan orang-orang yg mau saja. Suatu pengalaman spiritual mengesankan yg perlu sokongan imajinasi dan jalinan kerjasama dengan roh kreativitas.

ridwan kamil persib bandung

Alhamdulillah, di tengah kesibukan saya yg dibuat-buat, akhirnya bisa merancang pertemuan imajiner dengan salah satu tokoh publik terkemuka lagi. Setelah sebelumnya dengan Gubernur Jabar terpilih 2013-2018, kali ini dengan seorang aktivis sosial yg memberanikan diri mencalonkan diri menjadi walikota Bandung periode ini. Ya, beliau adalah Ridwan Kamil, yg sering disapa Kang Emil.

Profesional berkelas internasional, dosen ITB, ahli tata kota, penggiat komunitas kreatif, dan pastinya warga Bandung yg minggu kemarin habis diganjar penghargaan Leadership Award dari Penn Institute for Urban Research di New York ini bercita-cita untuk lebih mengharumkan Kota Kembang. Menjadikan Bandung juara Indonesia, bahkan juara dunia. Amin.

Di suasana Earth Hour ini (23/03/13), dengan hanya diterangi cahaya lilin, saya bisa duduk bersama penggagas BCCF (Bandung Creative City Forum) ini. Dengan memakai kaus oblong bertuliskan “Hidup Itu Udunan”, beliau keliatan sangat ramah dan bersahaja.

Saya  : “Langsung aja ya kang, ada agenda lain soalnya sayanya ini teh”

RK     : “Sok mangga. Ni asa rurusahan rip.

Saya  : “Gini kang, soal Persib. Menurut akang apa sih arti Persib bagi akang? Mun janten, Persib bade dikumahakeun tah?”

RK     : “Persib merupakan identitas warga Kota Bandung yang tidak dapat dipisahkan lagi, sebuah klub sepak bola yang selalu di elu-elukan dan dijungjung tinggi. Ketika saya pergi ke Amerika sambil membawa syal Persib, banyak yang bertanya tentang syal tersebut, saya hanya menjawab ini adalah klub sepak bola kebanggaan saya. Jika saya terpilih, saya berjanji akan terus memperjuangakan Persib untuk menjadi sebuah klub sepak bola nasinal yang hebat dan ditakuti lawan-lawannya layaknya Barcelona”

Saya  : “Wih Barcelona kang?”

RK     : “Iya, kan saya dulu pernah diskusi langsung sama walikota Barcelona. Dari tentang tata kota sampai sepakbolanya. Sempat muncul gagasan B to Be. Barcelona to Bandung.”

Saya  : “Wih keren tah, Culés soalna abdi. Hehe”

RK      : “Kan katanya bobotoh sajati, Persib dikamanakeun rip?”

Saya  : “Eh kan, sebagai warga Bandung mah ngadukung Persib, tah sebagai warga dunia mah ngadukung Barcelona. Sareng Tottenham oge ketang

RK     : “Hehe”

Saya  : “Lanjut ke pertanyaan tentang solusi mengatasi kemacetan. Gimana tah kang? Garis besarnya weh kang”

RK     : “Ada dua cara mengatasi kemacetan. Pertama melakukan update terhadap kondisi infrastruktur. Kedua, mengubah kultur masyarakat. Mengubah kultur itu contohnya begini. Kalau bisa, tinggal dan bekerja itu di tempat yang dekat. Misalnya tinggal di situ, kerja juga di situ, rekreasi juga di situ,”

Saya  : “Soal angkot nih kang, yg suka bikin macet, sama ugal-ugalan, gimana tuh kang?”

RK     : “Idealnya angkot itu jadi feeder di komplek-komplek, sampai jalan besar baru ganti bis”

Saya  : “Kalau untuk Damri gimana tah kang?”

RK     : “Pilihan kendaraan umum Bandung masih kurang reliable. Angkot yg asal ngetem, Bis Damri yg tuwir, dan taksi yg masih minoritas juga suka borongan. Untuk Damri sendiri tentu harus dilakukan peremajaan angkutan, dan yg pasti penentuan tarif ongkos yg terjangkau, bahkan harusnya gratis”

Saya   : “Setuju pisan kang. Minimal trayek Elang-Jatinangor nu digratiskeun teh. Hehe. Terakhir kang, nanti pas jadi walikota, masih jadi arsitek ga?”

RK      : “Pasti lah. Kan mengarsiteki Bandung”

Saya   : “Hehe. Paling gitu aja kang. Sayanya udah diteleponin nih. Sukses ya kang!”

Saya ga bisa lama-lama, harus bergegas buat presentasi imajiner di TEDxBandungCoret. Meski cuma sebentar kebersamaan saya dengan Kang Emil, tapi ini menjadi salah satu pengalaman yg mengesankan. Sayang ga bisa mengabadikan momen tersebut.

Oh ya, meski warna kulit sawo matang mengarah ke gelap, untuk pilwalkot Bandung kali ini saya akan jadi golongan putih. Ga dikasih hak pilih. Bandung Coret soalnya saya.:mrgreen:


13 thoughts on “Berbincang Imajiner dengan Kang Emil

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s