Zeitgeist, Kurt Vonnegut

“De mortuis nil nisi bonum!” Kata pria di bangku bar di sebelahku. Saat itu hampir mendekati waktu tutup, si bartender pamit pergi sebentar, dan hanya ada kami berdua. Kami duduk berdampingan selama hampir dua jam tanpa bicara. Aku sesekali mempelajari bayangannya di cermin biru di belakang bar, tapi aku tidak menatap matanya sampai dia berbicara—dan … More Zeitgeist, Kurt Vonnegut

Age of Empires II dan Simulasi Mode Produksi

Saya akan selalu menjadi seorang bocah aneh. Anggota tubuh saya terlalu berjarak dan bersendi pada interval yang tak menyenangkan, dan seringnya mereka tak sudi di bawah kendali saya. Saya punya suara nyaring, pandangan politik tak biasa, rahang yang lemah, dan keengganan naluriah untuk memakai warna-warna cerah. Sebuah keajaiban bahwa saya tidak pernah secara khusus menyukai … More Age of Empires II dan Simulasi Mode Produksi

Benjamin, Adorno dan Kuasa Budaya Populer

Dalam novel Jonathan Franzen yang dirilis 2001, The Corrections, seorang akademisi tak tahu malu bernama Chip Lambert, yang menelantarkan teori Marxis untuk beralih ke penulisan naskah, pergi ke Toko Buku Strand, di pusat kota Manhattan, untuk menjual perpustakaan buku dialektikanya. Karya-karya Theodor W. Adorno, Jürgen Habermas, Fredric Jameson, dan berbagai lainnya yang oleh Chip dapatkan … More Benjamin, Adorno dan Kuasa Budaya Populer

Penyenandung, Kazuo Ishiguro [2/2]

Selama kurang lebih dua puluh menit, kami duduk di gondola itu, mengapung berputar-putar, sementara Tuan Gardner bercerita. Terkadang suaranya bergumam, seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri. Di lain waktu, ketika sebuah lampu atau jendela yang lewat menyoroti kapal kami, dia akan kembali mengingatku, meninggikan suaranya, dan mengatakan sesuatu seperti: “Kau mengerti apa yang kukatakan, kawan?” … More Penyenandung, Kazuo Ishiguro [2/2]

Mampus Kau Dikoyak So Nyuh Shi Dae

Pada saat ia secara enggak sengaja menemukan Girls’ Generation, dalam YouTube, ia adalah seorang pria penyuka alternative rock; ia mencintai Weezer. Ia adalah Jon Toth, seorang kulit putih dua puluh sembilan tahun, sarjana komputer. “Aku pasti bukan jenis pria yang Anda harapkan untuk bisa kepincut sama grup Asia beranggota sembilan gadis,” ungkapnya pada sang jurnalis … More Mampus Kau Dikoyak So Nyuh Shi Dae